Legenda Delapan Dewa mungkin berawal pada Dinasti Tang, dan ...
Dewa Pelindung dari Setiap Shio
Perjalanan nasib manusia terus mengalami perubahan namun tidak terlepas dari nasib buruk dan nasib baik. Manusia tidak sanggup berbuat banyak terhadap misteri besar perjalanan nasib, tetapi tahukah Anda bahwa setiap orang yang terlahir ke dunia memiliki "Dewa Pelindung".
Maha guru Buddhis bersabda "Asalkan setiap orang dengan setulus hati memuja, memuliakan: Dewa Pelindung " masing-masing maka kesehatan, kebijaksanaan ,karier, keluarga, hubungan asmara, nama dan kedudukan, berkah dan kebajikan beserta rezeki akan mengalami perubahan yang nyata, segala urusan menjadi lancar dan sukses. Berikut adalah Dewa Pelindung dari setiap shio:
Bodhisattva Manjusri sendiri melambangkan Intelegensi, Kebijaksanaan dan lulusnya seseorang dalam menempuh ujian dalam kehidupan, dan memperoleh ijazah- spiritualtingkatan tertentu. Sedangkan Bodhisattva Samantabhadra mewakili Doktrin atau Ajaran Dharma, Kontemplasi atau Meditasi, dan Praktek atau Pelaksanaan dari ajaran agama.
Di dalam kegiatan pembinaaan diri, Bodhisattva Samantabhadra menggarisbawahi Samadhi, kebajikan clan prakteknya dari kedua tokoh Bodhisattva ini. Melambangkan kesempurnaaan dalam prinsip Buddha Mahayana tingkatan paling tinggi.
Bodhisattva Samantabhadra telah mempraktekkan jalan ke Bodhisattva-an di masa-masa yang lampau di dalam banyak kalpa-kalpa itu, mencari semua kebijaksanaan. Dan telah melaksanakan Sumpah Maha Sucinya yang tak terbatas, untuk membebaskan penderitaan bagi sernua makhluk hidup. Beliau dianggap sebagai suatu model bagi umat Buddha Mahayana dalam belajar, meniru, melaksanakan dan membina diri melalui Jalan Ke Bodhisattvaan.
Sumpah Suci
Dalam Kitab Suci agama Buddha Sutia Avatamsaka dituliskan, bahwa Beliau telah menasehati dan mengajak orang-orang untuk membina diri. Memperkembangkan 10 type atau jenis-jenis tingkah laku dan Sumpah Suci. Adapun kesepuluh Sumpah Suci itu adalah:
- Untuk memuja dan menghormati semua Buddha, 
- Untuk memuji Hyang Tathagata, 
- Untuk mempelajari dan meningkatkan Sesaji Suci, 
- Untuk belajar menyesal atas perbuatan-perbuatan buruknya kemudian memperbaikinya,
- Untuk mengajak orang-orang lain mau ikut Berta memutar Roda Dharma, 
- Untuk menghayati kegembiraan di dalam (melakukan) penimbunan jasa-jasa kebaikan dan kebajikan-kebajikan,
- Untuk memohön agar Hyang Buddha berkenan lahir di dunia ini, 
- Untuk mempelajari Buddha Dharma, 
- Untuk hidup secara serasi, bertoleransi, Baling tenggang-rasa dengan orang-orang lain, dan 
- Untuk belajar mentransfer, memberikan semua jasa-jasa kebaikan dan kebajikan-kebajikan yang dipunyai bagi kemanfaatan orang-orang lain atau makhluk-makhluk lain. 
Dengan didasari oleh sepuluh Sumpah Suci tersebut, Bodhisattva Samantabhadra menasehati clan mengajak makhluk-makhluk hidup untuk mencapai jasa-jasa kebaikan dan kebajikan-kebajikan, seperti yang telah dipunyai oleh Nhyang Tathagata. Gunung Suci Ho Mei yang terdapat di Propinsi Szechwan, secara tradisional dikenal dan termasyur sebagai Bodhimandanya Sang Bodhisattva Samantabhadra, dan menjadi Pusat Pemu jaan terhadap Sang Bodhisattva tersebut.
Pada zaman yang akan datang, Bodhisattva Mahasthamaprapta itu akan mengikuti Bodhisattva Avalokitesvara untuk mencapai tingkat Kebuddhaannya. Dan Beliau akan dinamai Buddha Raja yang berhiaskan intan berlian dan bertahta di singgasana jasa-jasa kebaikan dan kebajikan kebajikan yang tinggi.
Menurut Kitab suci Agama Buddha yang dinamai Sutra Shurangama, Bodhisattva Mahasthamaprapta telah melatih samadhi dengan menyebut secara berulang-ulang nama Buddha sebagai dasar berpijaknya meditasinya. sehingga Beliau dapat mengajarkan kepada makhluk-mahluk hidup agar juga menyebut, mengucap secara berulang-ulang nama Buddha yang dapat merupakan Pembuka Pintu Dharma. Pikiran Beliau telah dituangkan didalam kalimat sebagai berikut: ”Karena Sang Buddha telah memiliki belas kasihan yang sangat mendalam kepada semua makhluk hidup, maka para Tathagata yang menghuni di sepuluh penjuru mata angin itu selalu memikirkan semua mahkluk pula. Apabila mahkluk-makhluk ingat kepada Hyang Buddha dan menyebut secara berulang-ulang nama Beliau, maka karena pada saat kematiannya kelak akan dapat melihat dan bertemu dengan Hyang Buddha”.
Ajaran Bodhisattva Mahasthamaprapta itu berupa: “Agar manusia belajar mengontrol, menguasai, mengendalikan ke-Enam Akar (atau benih dari fikiran yang kurang baik), dan belajar berfikir secara terus-menerus mengenai kemurnian, agar dapat dicapai keadaan samadhi”. Pintu Dharma ini telah diterima oleh umat Buddha Mahayana Sekte Tanah Suci sebagai aturan penting untuk diikuti.
Di dalam Kelenteng, seperti di Jin De Yuan {Kim Tek Ie} ini, Buddha Amitabha ditampilkan bersama dengan Shi Jia Mou Ni Fo { Hok Kian = Sek Ka Mo Ni Hud } Buddha Sakyamuni, dan Yao Shi Fo { Yok Su Hud } Buddha Bhaisajya Guru. Mereka bertiga disebut San Zun Da Fo {Sam Cun Tai Hud } atau lebih terkenal dengan sebutan San Bao Fo { Sam Po Hud } atau Tri Ratna Buddha. Seperti kita ketahui dalam Buddhisme yang disebut Tri Ratna adalah Buddha, Dharma & Sangha. Buddha adalah orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna, Dharma adalah ajaran-ajaran suci Sang Buddha, & Sangha adalah persaudaraan suci para Bhikkhu/Bhikkhuni. Dalam Bahasa Mandarin, Buddha disebut sebagai Fo Bao, Dharma disebut sebagai Fa Bao, & Sangha disebut Seng Bao. Ketiganya secara bersama disebut San Bao (Sansekerta = Tri Ratna). San Bao ini dalam Khasanah Dewata Buddhisme Tionghoa dipersonifikasikan dengan 3 (tiga) tokoh, yaitu: Shi Jia Mou Ni Fo sebagai Fo Bao, A Mi Tuo Fo sebagai Fa Bao, & Yao Shi Fo sebagai Seng Bao. 
Sumber: http://peoplewillfindtheway.blogspot.co.id




